Showing posts with label ibu hamil. Show all posts
Showing posts with label ibu hamil. Show all posts

Saturday, May 2, 2015

Ruang Lingkup Penelitian Kebidanan


Penelitian Kebidanan memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan penelitian kebidanan mencakup kategori :
  1. Kehamilan : lingkup penelitian ini adalah segala bentuk penelitian yang membahas tentang berbagai masalah- masalah kehamilan, seperti perubahan- perubahan fisiologi atau psikologi yang terjadi selama kehamilan, dampak perubahan tersebut pada ibu atau keluarga serta masalah lain seperti perdarahan pervaginam, hipertensi gravidarum, nyeri kepala, nyeri perut bagian bawah, status gizi ibu hamil dll. Contoh : Gambaran Pengetahuan Primi Gravida tentang Hiperemesis Gravidarum dan Penanganannyadi Rumah Bersalin A
  2. Persalinan : Lingkup ini membahas tentang berbagai masalah- masalah yang terjadi dalam proses persalinan, seperti cepat atau tidaknya proses persalinan (kala I, II, III dan IV) dan teknik- teknik yang tepat dalam membantu proses persalinan. Contoh : Pengaruh Kehadiran Suami terhadap Percepatan Proses Persalinan pada Ibu yang dirawat di Rumah Bersalinan B
  3. Nifas (Pasca Persalinan) : membahas berbagai masalah selama nifas, seperti proses laktasi dan menyusui, respon orangtua terhadap bayi baru lahir, perubahan fisiologi dan patologi setelah masa nifas, kebutuhan masa nifas, nyeri, infeksi, perawatan payudara, perineum, senam nifas dan lain- lain. Contoh : Studi tentang Proses Laktasi dan Menyusui Pada Ibu Nifas di Rumah Bersalin C
  4. Patologi Kebidanan : membahas tentang masalah patologi kebidanan, seperti adanya penyakit tuberkulosis paru, gagal ginjal, hipertensi, diabetes, asma atau penyakit infeksi seperti sifilis, toksoplasmosis, hepatitis atau penyulit lain seperti anemia kehamilan, hiperemesis, abortus, molahidatidosa, pre eklamsi, solusio plasenta, plasenta previa, letak lintang, dan bendungan ASI, tromboplebitis dan lain- lain. Contoh : Faktor- faktor yang Mempengaruhi terjadinya Anemia pada Ibu Hamil yang di rawat di Rumah Bersalin D
  5. Kebidanan Komunitas : membahas masalah kebidanan di komunitas seperti kematian ibu dan bayi, kehamilan remaja, unsafe abortion, bayi berat lahir rendah, tingkat kesuburan, pertolongan persalinan oleh non kesehatan, perilaku sosial budaya yang berpengaruh pada masalah kebidanan dan penyakit menular seksual. Contoh : Faktor- faktor yang Mempengaruhi Tingginya Kematian Ibu dan Anak yang Tinggal di Daerah A
  6. Neonatus, Bayi dan Balita : membahas masalah pada neonatus, bayi dan balita diantaranya adaptasi bayi baru lahir, adanya infeksi, rawat gabung, tumbuh kembang, serta masalah lain, seperti trauma lahir, adanya infeksi, rawat gabung, tumbuh kembang, serta masalah lain seperti trauma lahir, da berbagai penyakit pada bayi seperti bercak mongol, hemangioma, ikterik, diaper rush diare, infeksi dll. 
  7. Keluarga Berencana : membahas masalah yang berkaitan dengan keluarga berencana mulai dari efektifitas penggunaan KB, dampak, cara/ metode, konseling dan lain- lain.
  8. Kesehatan Reproduksi : membahas masalah tentang kesehatan reproduksi seperti infertilitas, sexual transmitted disease atau penyakit menular seksual, gangguan haid, pelvic inflamatory disease, aborsi dan penyakit keganasan.

Friday, April 3, 2015

Suntik Pematangan Paru

Pada kehamilan yang dianggap beresiko dan memenuhi indikasi untuk dilakukan persalinan dengan tindakan operasi sesar, dimana usia kehamilan belum mencukupi waktunya, ditakutkan terjadinya pengembangan paru yang tidak sempurna yang dapat berakibat pada kematian pada bayi yang baru lahir akibat paru-paru yang belum matang sempurna. 

Surfaktan merupakan komponen yang penting dalam proses pengembangan paru. Surfaktan akan dikeluarkan pada usia kehamilan 24-26 minggu, dan mulai berfungsi aktif pada usia 32-34 minggu.

Produksi surfaktan dapat dipercepat lebih dini dengan meningkatnya pengeluaran kortisol janin yang disebabkan oleh stres, atau oleh pengobatan betamethasone atau deksamethason yang diberikan pada ibu yang diduga akan melahirkan bayi dengan defisiensi surfaktan atau kehamilan preterm 24-34 minggu.

Untuk itu, diskusikanlah kembali mengenai perlu atau tidaknya suntik pematangan paru pada kasus Anda dimana usia kehamilan sudah mencapai usia 39 minggu, mungkin saja dokter Anda memiliki pertimbangan lain yang belum disampaikan kepada Anda. 
 
Suntikan Pematangan paru sudah bisa diberikan pada usia kehamilan 28minggu, namun karena kemampuan NICU di Indonesia utk menopang hidup bayi prematur dibawah 1500 gram (dibawah 30 mgg) masih rendah, sehingga janin sebisa mungkin tidak dilahirkan sampai diatas 2000 gram. Suntikan pematangan paru diberikan hanya jika terjadi ancaman harus lahir prematur, dan diberikan segera saat pasien masuk dirawat akibat ancaman prematur (seperti kontraksi berulang, ketuban pecah dini) selama 2 hari penyuntikan.
Kehamilan kembar merupakan salah satu kondisi yang berisiko lahir prematur. Karena itu, pada wanita hamil kembar acapkali dilakukan suntikan obat untuk memicu pematangan paru-paru janin, sehingga diharapkan bayi yang dilahirkan tidak memiliki masalah pernapasan. Injeksi intra vena untuk pematangan paru-paru janin dilakukan di daerah pergelangan tangan ibu. Mengenai rasa sakit saat disuntik, ada ibu yang mengatakan tidak sakit hanya kurang nyaman, namun ibu lainnya mungkin berpendapat berbeda.

Injeksi ini bertujuan :
untuk membantu mempersiapkan alveolus paru untuk lebih mudah berkembang saat pertama kali janin bernafas/menangis. 
Pada janin yang belum matang paru- parunya namun terpaksa harus dilahirkan, maka janin berhadapan dengan risiko kesulitan bernafas akibat tidak mampunya alveolus untuk berkembang, sehingga meningkat pula risiko kematian bayi
 
Efek Samping Suntikan Pematangan Paru
Pada umumnya tidak ada resiko atau efek samping dari suntikan pematangan paru tersebut. Justru pada janin yang beresiko dan tidak dilakukan prosedur ini, dapat terjadi bahaya komplikasi sindroma gawat napas hingga kematian. 

Intra Uterine Growth Retardation-Gangguan Tumbuh Kembang Janin/IUGR

IUGR (Intra Uterine Growth Retardation)
Definisi menurut WHO (1969), janin yang mengalami pertumbuhan yang terhambat adalah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat standard atau ukuran standard yang sesuai dengan usia kehamilannya. Pertumbuhan Janin Terhambat atau Intra Uterine Growth Restriction adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi dan pertumbuhan janin yang mengakibatkan berat badan lahir dibawah batasan tertentu dari usia kehamilannya.
Definisi yang sering dipakai adalah bayi-bayi yang mempunyai berat badan dibawah 10 persentil dari kurva berat badan bayi yang normal. Dalam 5 tahun terakhir, istilah Retardation pada Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) telah berubah menjadi Restriction oleh karena Retardasi lebih ditekankan untuk mental.
Menurut Gordon, JO (2005) pertumbuhan janin terhambat-PJT (Intrauterine Growth Retardation) diartikan sebagai suatu kondisi dimana janin berukuran lebih kecil dari standar ukuran biometri normal pada usia kehamilan. Kadang pula istilah PJT sering diartikan sebagai kecil untuk masa kehamilan-KMK (small for gestational age). Umumnya janin dengan PJT memiliki taksiran berat dibawah persentil ke-10. Artinya janin memiliki berat kurang dari 90 % dari keseluruhan janin dalam usia kehamilan yang sama. Janin dengan PJT pada umumnya akan lahir prematur (<37 minggu) atau dapat pula lahir cukup bulan (aterm, >37 minggu).

Etiologi IUGR
1. Faktor Ibu
a. Penyakit hipertensi (kelainan vaskular ibu).
Pada trimester kedua terdapat kelanjutan migrasi interstitial dan endotelium trophoblas masuk jauh ke dalam arterioli miometrium sehingga aliran menjadi tanpa hambatan menuju retroplasenter sirkulasi dengan tetap. Aliran darah yang terjamin sangat penting artinya untuk tumbuh kembang janin dengan baik dalam uterus. Dikemukakan bahwa jumlah arteri-arterioli yang didestruksi oleh sel trophoblas sekitar 100-150 pada daerah seluas plasenta sehingga cukup untuk menjamin aliran darah tanpa gangguan pada lumen dan arteri spiralis terbuka.
Gangguan terhadap jalannya destruksi sel trophoblas ke dalam arteri spiralis dan arteriolinya dapat menimbulkan keadaan yang bersumber dari gangguan aliran darah dalam bentuk “iskemia retroplasenter”. Dengan demikian dapat terjadi bentuk hipertensi dalam kehamilan apabila gangguan iskemianya besar dan gangguan tumbuh kembang janin terjadi apabila iskemia tidak terlalu besar, tetapi aliran darah dengan nutrisinya merupakan masalah pokok.
b. Kelainan uterus.
Janin yang tumbuh di luar uterus biasanya mengalami hambatan pertumbuhan.
c. Kehamilan kembar.
Kehamilan dengan dua janin atau lebih kemungkinan besar dipersulit oleh pertumbuhan kurang pada salah satu atau kedua janin dibanding dengan janin tunggal normal. Hambatan pertumbuhan dilaporkan terjadi pada 10 s/d 50 persen bayi kembar.
d. Ketinggian tempat tinggal
Jika terpajan pada lingkungan yang hipoksik secara kronis, beberapa janin mengalami penurunan berat badan yang signifikan Janin dari wanita yang tinggal di dataran tinggi biasanya mempunyai berat badan lebih rendah daripada mereka.
e. Keadaan gizi
Wanita kurus cenderung melahirkan bayi kecil, sebaliknya wanita gemuk cenderung melahirkan bayi besar. Agar nasib bayi baru lahir menjadi baik, ibu yang kurus memerlukan kenaikan berat badan yang lebih banyak dari pada ibu-ibu yang gemuk dalam masa kehamilan. Faktor terpenting pemasukan makanan adalah lebih utama pada jumlah kalori yang dikonsumsi setiap hari dari pada komposisi dari kalori. Dalam masa hamil wanita keadaan gizinya baik perlu mengkonsumsi 300 kalori lebih banyak dari pada sebelum hamil setiap hari. Penambahan berat badan yang kurang di dalam masa hamil menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan yang rendah.
f. Perokok
Kebiasaan merokok terlebih dalam masa kehamilan akan melahirkan bayi yang lebih kecil sebesar 200 sampai 300 gram pada waktu lahir. Kekurangan berat badan lahir ini disebabkan oleh dua faktor yaitu :
1) Wanita perokok, cenderung makan sedikit karena itu ibu akan kekurangan substrat di dalam darahnya yang bisa dipergunakan oleh janin.
2) Merokok menyebabkan pelepasan epinefrin dan norepinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi yang berkepanjangan sehingga terjadi pengurangan jumlah pengaliran darah kedalam uterus dan yang sampai ke dalam ruang intervillus.

2. Faktor Anak
a. Kelainan congenital
b. Kelainan genetik
c. Infeksi janin, misalnya penyakit TORCH (toksoplasma, rubela, sitomegalovirus, dan herpes).
Infeksi intrauterine adalah penyebab lain dari hambatan pertumbuhan intrauterine.banyaktipe seperti pada infeksi oleh TORCH (toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simplex) yang bisa menyebabkan hambatan pertumbuhan intrauterin sampai 30% dari kejadian. Infeksi AIDS pada ibu hamil menurut laporan bisa mengurangi berat badan lahir bayi sampai 500 gram dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir sebelum terkena infeksi itu.
Diperkirakan infeksi intrauterin meninggikan kecepatan metabolisme pada janin tanpa kompensasi peningkatan transportasi substrat oleh plasenta sehingga pertumbuhan janin menjadi subnormal atau dismatur.

3. Faktor Plasenta
Penyebab faktor plasenta dikenal sebagai insufisiensi plasenta. Faktor plasenta dapat dikembalikan pada faktor ibu, walaupun begitu ada beberapa kelainan plasenta yang khas seperti tumor plasenta. Sindroma insufisiensi fungsi plasenta umumnya berkaitan erat dengan aspek morfologi dari plasenta. Parameter klinik yang dapat digunakan untuk mendeteksi PJT ketidaksesuaian usia gestasi dengan besar uterus, laju pertumbuhan terhambat, atau pertambahan berat badan ibu yang kurang. Kejadian yang terbukti dengan cara ini hanya 10-25%, sehingga perlu digabung dengan pemeriksaan dan USG Doppler.
a) Manajemen pada kasus preterm dengan pertumbuhan janin terhambat lakukan pematangan paru dan asupan nutrisi tinggi kalori mudah dicerna, dan banyak istirahat.
b) Pada kehamilan 35 minggu tanpa terlihat pertumbuhan janin dapat dilakukan pengakhiran kehamilan.
c) Jika terdapat oligohidramnion berat disarankan untuk per abdominam.
d) Pada kehamilan aterm tergantung kondisi janin jika memungkinkan dapat dicoba lahir pervaginam.

PATOFISIOLOGI IUGR
1. Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan
Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut.
2. Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan
Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati ukuran plasenta yang luas.
3. Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan
Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi antara janin dengan plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis mungkin telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang irreversibel.

Klasifikasi IUGR

Klasifikasi IUGR / Pertumbuhan janin terhambat (PJT) yaitu:
1. PJT tipe I atau dikenal juga sebagai tipe simetris.
Terjadi pada kehamilan 0-20 minggu,terjadi gangguan potensi tubuh janin untuk memperbanyak sel (hiperplasia), umumnya disebabkan oleh kelainan kromosom atau infeksi janin.prognosisnya buruk.
2. PJT tipe II atau dikenal juga sebagai tipe asimetris.
Terjadi pada kehamilan 24-40 minggu, yaitu gangguan potensi tubuh janin untuk memperbesar sel (hipertropi), misalnya pada hipertensi dalam kehamilan disertai insufisiensi plasenta.
3. PJT tipe III adalah kelainan diantara dua tipe diatas.
Terjadi pada kehamilan 20-28 minggu,yaitu gangguan potensi tubuh kombinasi antara gangguan hiperplasia dan hipertropi sel. Misalnya dapat terjadi pada malnutrisi ibu,kecanduan obat,atau keracunan.

TANDA DAN GEJALA IUGR
1. Uterus dan janin tidak berhasil tumbuh dengan kecepatan normal selama jangka waktu 4 minggu.
2. Tinggi fundus uteri sedikitnya 2 cm lebih rendah dari pada yang di perkirakan menurut umur/ lama kehamilan .
3. Berat badan ibu semakin menurun.
4. Gerakan janin semakin berkurang.
5. Volume cairan ketuban menurun.

DIAGNOSIS IUGR
1. Faktor Ibu
Ibu hamil dengan penyakit hipertensi, penyakit ginjal dan kardiopulmonal dan pada kehamilan ganda.

2. Tinggi Fundus Uteri
Cara ini sangat mudah, murah, aman, dan baik untuk diagnosa pada kehamilan kecil. Caranya dengan menggunakan pita pengukur yang di letakkan dari simpisis pubis sampai bagian teratas fundus uteri. Bila pada pengukuran di dapat panjang fundus uteri 2 (dua) atau 3 (tiga) sentimeter di bawah ukuran normal untuk masa kehamilan itu maka kita dapat mencurigai bahwa janin tersebut mengalami hambatan pertumbuhan.

3. USG Fetomaternal
Pada USG yang diukur adalah diameter biparietal atau cephalometry angka kebenarannya mencapai 43-100%. Bila pada USG ditemukan cephalometry yang tidak normal maka dapat kita sebut sebagai asimetris PJT. Selain itu dengan lingkar perut kita dapat mendeteksi apakah ada pembesaran organ intra abdomen atau tidak, khususnya pembesaran hati. Tetapi yang terpenting pada USG ini adalah perbandingan antara ukuran lingkar kepala dengan lingkar perut untuk mendeteksi adanya asimetris PJT.

4. Doppler Velocimetry
Dengan menggunakan Doppler kita dapat mengetahui adanya bunyi end-diastolik yang tidak normal pada arteri umbilicalis, ini menandakan bahwa adanya PJT.

Tuesday, March 31, 2015

Amnion/Cairan Ketuban


Amnion (cairan ketuban) adalah cairan yang bening agak kekuning-kuningan yang mengelilingi bayi yang belum lahir (janin) selama kehamilan. Cairan ini terkandung dalam kantung ketuban.
Pengertian Air Ketuban adalah cairan amnion, adalah cairan yang terdapat dalam ruangan yang diliputi selaput janin. Bobot jenis cairan ini sekitar 1.080 Makin tua kehamilan, makin turun berat jenisnya, hingga menjadi 1.025-1.010

Di dalam rahim, bayi mengapung dalam cairan ketuban. Cairan ketuban mengelilingi dan mendukung bayi dalam seluruh perkembangannya. Jumlah cairan ketuban terbesar adalah sekitar 34 minggu kehamilan.

Cairan ketuban terus bergerak (beredar) saat bayi menelan dan menghirup cairan, dan kemudian melepaskan atau menghembuskan cairan melalui urin.

Fungsi Cairan Ketuban
  1. Sebagai pelindung yang akan menahan janin dari trauma akibat benturan.
  2. Melindungi dan mencegah tali pusat dari kekeringan, yang dapat menyebabkannya mengerut sehingga menghambat penyaluran oksigen melalui darah ibu ke janin.
  3. Berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara.
  4. Memungkinkan janin bergerak lebih bebas, membantu sistem pencernaan janin, sistem otot dan tulang rangka, serta sistem pernapasan janin agar berkembang dengan baik.
  5. Menjadi inkubator yang sangat istimewa dalam menjaga kehangatan di sekitar janin. 
  6. Selaput ketuban dengan cairan ketuban di dalamnya merupakan penahan janin dan rahim terhadap kemungkinan infeksi.
Pada waktu persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim membuka.
Dan saat kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan jalan lahir.

Pada saat kehamilan, air ketuban juga bisa digunakan untuk mendeteksi kelainan yang dialami janin, khususnya yang berhubungan dengan kelainan kromosom.
Kandungan lemak dalam air ketuban dapat menjadi penanda janin sudah matang atau lewat waktu.

Ternyata, mulai dari awal kehamilan sampai dengan trimester kedua kehamilan, air ketuban ini akan nampak terang, jernih, dan mungkin agak kekuningan. Namun, kalau sudah di trimester ketiga kehamilan, air ketuban berubah menjadi terang sekali, benar-benar tidak ada warnanya.

Sekitar kurang lebih mulai minggu ke 33 sampai dengan minggu ke 34, cairan ketuban berubah menjadi agak sedikit keruh. Perubahan ini tentunya secara perlahan-lahan, dan tidak langsung begitu saja. Barulah sekitar minggu-minggu ke 36 sampai dengan minggu ke 37, perubahan ini terjadi relatif lebih cepat.

Dalam kurun waktu kehamilan tidak hanya secara fisik anda yang mengalami perubahan akan tetapi beberapa faktor seperti komposisi air ketuban mengalami perubahan sesuai dengan usia.

Selama kehamilan anda akan mengalami jumlah air ketuban bahkan pada usia kandungan memasuki usia 25 minggu jumlah air ketuban rata rata adalah 239 ml sedangkan pada usia kehamilan 33 minggu rata rata meningkat menjadi 984 ml.

Air ketuban menjadi poin penting selama kehamilan begitu juga saat memasuki persalinan. Pada saat persalinan air ketuban abnormal akan mengakibatkan kondisi kesehatan bayi memburuk.

Warna Cairan Ketuban
Warna air ketuban sebenarnya tak berbeda dengan warna air biasa, yakni jernih. Kalau ada perubahan warna, semisal hijau atau merah kecokelatan, patut dicurigai ada yang tak beres pada janin. Kemungkinan akibat infeksi, terjadi kebocoran/pecah ketuban, atau hal lain yang bersifat fatal.

Tingkat keparahan gangguan, bisa “terbaca” dari gradasi warna yang terbentuk. Semakin pekat dan keruh warnanya, tentu kian besar pula ancaman pada kesejahteraan janin. “Kalau hijau kental, misalnya, kemungkinan besar janin sudah buang air besar (BAB) di dalam rahim. Harus dilihat lagi, apakah janin mengalami stres karena berkurangnya suplai oksigen atau melemahnya otot-otot sfingter yang mengelilingi saluran pembuangan. Sebab dalam keadaan normal bayi, belum BAB di dalam rahim jika memang tak ada stres.”

Karena itulah, bila air ketuban berwarna keruh, paramedis yang menangani persalinan harus segera bertindak. Sayangnya, warna air ketuban baru dapat terlihat saat persalinan dan sama sekali tak bisa “diintip” selagi janin masih dalam kandungan.

Saat pembukaan dua dan ketahuan air ketuban berwarna hijau kental, misalnya, dokter harus segera memutuskan untuk menempuh tindakan sesar karena itu menandakan gawat janin yang semakin besar risikonya bila harus berlama-lama mengikuti proses melahirkan secara spontan. Belum lagi bila ada kemungkinan persalinan macet atau lainnya.

Begitu juga bila air ketuban berwarna merah. “Itu pertanda ada perdarahan, entah karena ari-ari lepas maupun perdarahan karena sebab lain. Sedangkan bila warna air ketuban bernuansa cokelat kehitaman biasanya bayi sudah meninggal dalam rahim. “Sebetulnya, ibu sudah bisa mengantisipasi keadaan ini lewat gerakan janin. Memasuki usia kehamilan 28 minggu, contohnya, minimal 10 kali gerakan per hari. Jika kurang dari itu atau malah tidak bergerak sama sekali, ibu bisa langsung berkonsultasi ke dokter.

Penyebab Ketuhnya Cairan Ketuban
Salah satunya dalam beberapa kasus ditemukan adanya air ketuban yang keruh yang dapat mengakibatkan gangguan pada saat persalinan. Air ketuban keruh dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah infeksi yang terjadi selama kehamilan, kehamilan yang lebih dari waktu persalinan, terjadinya gangguan pada janin.

1. Infeksi
Infeksi yang terjadi selama kehamilan dapat disebabkan karena air ketuban pecah disebabkan oleh infeksi sehingga harus segera dilakukan persalinan, apabila tidak segera diberikan penanganan dikhawatirkan akan mengakibatkan gangguan pada bayi anda.

2. Kehamilan yang melebihi 42 minggu
Sedangkan untuk hamil yang melewati waktu berhubungan dengan kelahiran normal yang harusnya terjadi 37 hingga 42 minggu. Bagi ibu hamil yang melewati masa tersebut biasanya disebut over pregnancy sehingga apabila melewati usia 42 minggu plasenta akan lebih tua dan tidak berfungsi seperti mestinya menyebabkan kekurangan pasokan oksigen pada bayi. Hal ini meningkatkan resiko ketuban pecah dini dan terjadi infeksi pada bayi, selain itu
dapat mengakibatkan air ketuban menjadi berwarna hijau keruh.

3. Gangguan pada janin
Selanjutnya penyebab dari bahaya air ketuban keruh adalah gangguan pada janin. Salah satu kasus yang dapat diambil adalah kurangnya pasokan oksigen dari sang ibu dikarenakan gangguaan kesehatan seperti asma atau terjadi karena gangguan dari pergerakan bayi yang terlalu aktif mengakibatkan tali pusar melilit sehingga mengakibatkan bayi stress. Bayi yang stress akan mengeluarkan mekonium yaitu feses yang dihasilkan oleh bayi yang baru lahir. Terjadinya mekonium di dalam kandungan mengakibatkan air ketuban menjadi hijau keruh. Air ketuban memang sangat befungsi ketika kehamilan dan menjelang persalinan akan tetapi apabila sudah melalui masa hamil (37-42 minggu) dan bayi masih di dalam kandungan akan berbahaya. Air ketuban yang mencemari disaat persalinan berlangsung dikenal dengan istilah medis Meconium Aspiration syndrome (MAS). Air ketuban keruh yang berwarna hijau bahkan hingga berwarna hitam akan mengakibatkan gangguan kesehatan pada bayi apabila tidak segera ditangani. Ciri ciri bayi yang megalami keracunan air ketuban adalah dengan mengalami penuaan pada kulit seperti keriput kemudian kukunya memanjang dan adanya cairan pada paru-parunya.

Lakukan pencegahan agar air ketuban terjaga dengan baik yaitu dengan mengkonsumsi air kelapa muda dikarena kandungan nutrisi yaitu kandungan elektrolit yang dapat membersihkan rahim terutama dalam menjaga kestabilan air ketuban.

Komposisi Cairan Ketuban
1. Terdiri dari 98% air
2. Bahan padat lain 2% yang terdiri dari: a) Elektrolit, derifat protein (kreatinin, ureum, dan asam urat), glukosa, lemak, dan lemak protein (fosfolipid dan kolesterol) b) Hormon (HCG, Hpl, Estrogen, Progesteron, Prolaktin) c) Enzim (seluruh enzim dalam tubuh manusia) d) Pigmen ( bilirubin pada awal kehamilan yang akan menghilang saat hepar menjadi matang) e) Bahan-bahan dari janin seperti rambut, verniks.

Hubungan Antara Pola Makan Ibu Hamil Dengan Tinggi Fundus Uteri Dan Berat Badan (Status Gizi)

BAB I 

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan menjadi bagian dari pembangunan nasional yang merupakan upaya bagi seluruh bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah dalam mewujudkan peningkatan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat setiap orang agar mencapai derajat kesehatan masyarakat. Pembangunan berwawasan kesehatan adalah sebagian strategi pembangunan nasional untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010 sehingga kebijakan dan strategi ini memiliki dampak negatif dan positif terhadap kesehatan masyarakat baik bagi individu, keluarga, maupun masyarakat terutama terhadap ibu hamil yang merupakan pencetus lahirnya generasi yang akan membangun bangsa dimasa depan. (Depkes RI 2000).

Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kebijaksanaan umum dari tujuan nasional. Agar tujuan pembangunan dibidang kesehatan tersebut dapat terwujud, diperlukan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal dan sebagai perwujudan upaya tersebut dibentuk sistem kesehatan nasional (Budioro, 2001).

Hubungan erat antara makanan dengan kesehatan manusia telah lama diakui oleh para ahli. Pada tahun 1970, para pembuat kebijakan pembangunan di dunia menyadari bahwa arti makanan lebih luas dari sekadar untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan saja. Kecukupan gizi dan pangan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia, hal mana merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Dalam hal ini gizi ternyata sangat berpengaruh terhadap kecerdasan dan produktivitas kerja manusia. Agar perencanaan upaya peningkatan status gizi penduduk dapat dilakukan dengan baik, semua aspek yang berpengaruh perlu dipelajari termasuk aspek pola makan, sosio-budaya, dan pengaruh konsumsi makanan terhadap status gizi. (Almatsier, 2001).

Asupan zat gizi sehari-hari sangat tergantung pada pola makan yang dilakukan. Jumlah dan mutu yang memadai harus selalu tersedia dan dapat diakses oleh semua orang pada setiap saat. Bahasan tersebut menggambarkan betapa eratnya kaitan antara gizi masyarakat dan pembangunan pertanian. Keterkaitan tersebut secara lebih jelas dirumuskan dalam pengertian ketahanan pangan (food security) yaitu tersedianya pangan dalam jumlah dan mutu yang memadai dan dapat dijangkau oleh semua orang untuk hidup sehat, aktif, dan produktif. (Almatsier, 2003).

Pada dasarnya Kehamilan merupakan keadaan fisiologis yang menyebabkan perubahan keseimbangan hormonal, terutama perubahan hormon esterogen dan progesterone.keinginan untuk hamil adalah salah satu insting manusia yang paling mendasar dan paling kuat, juga dimiliki oleh semua mahluk hidup dibumi. Kenaikan berat badan pada masa kehamilan berjalan dengan perlahan dan stabil. (Charlis, 2005).

Kehamilan merupakan masa kehidupan yang penting, masa ini dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Prawirohardjo, 2002).

Kecepatan naiknya berat badan hampir sama pentingnya dengan jumlah kenaikan yang harus didapat. Idealnya penambahan berat badan terjadi secara perlahan dan stabil disepanjang kehamilan. Selama trimester pertama berat badan naik 1,5 sampai 2 Kg dan saat memasuki trimester kedua kehamilan, ibu hamil harus mengalami kenaikan berat badan sekitar 500 gram per-minggu atau total kenaikan sebanyak 6 sampai 7 Kg. Memasuki bulan ketujuh dan delapan, berat badan harus terus naik sekitar 500 gram per-minggu. Trimester ketiga bulan terakhir kehamilan, berat badan ibu hamil hanya boleh naik sebanyak 500 gram atau 1 Kg atau tidak naik sama sekali sehingga jumlah kenaikan selama terimester ketiga adalah 4 sampai 5 Kg. (Francis-Cheung, 2008).

Menurut Abrams dan Salvin, 1995, “Kurangnya pertambahan berat badan pada trimester II berkorelasi kuat dengan penurunan berat lahir”. (Cunningham, dkk. 2005). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan berat badan ibu hamil sendiri adalah oedema, proses metabolisme, pola makan, merokok, muntah atau diare (Salmah, 2006). Untuk batas kenormalan kenaikan berat badan ibu hamil sendiri tergantung dari indeks masa tubuh (IMT) wanita sebelum hamil (Paath, 2004). IMT adalah berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi dalam meter (Hunter, 2005).

Berat badan yang didapatkan diakhir kehamilan adalah jumlah dari beberapa hal yang berbeda, kira-kira 7,5% kg, akan berhubungan langsung dengan bayi dan kebutuhannya untuk berat badan bayi, tali pusat, ketuban, otot tambahan untuk memperkuat dinding rahim, arah tambahan yang dibutuhkan bayi dan sel-sel baru untuk menyusui (Huter, 2005).

Selain peningkatan berat badan ibu hamil ada faktor lain yang dapat mempengaruhi berat badan bayi baru lahir antara lain genetik yang normal dan patologis, penyakit ibu, obstetrik dan lingkungan. Menurut National Center For Health Statistics, 2003 “Berat Badan Lahir adalah berat neonatus yang diukur segera setelah lahir atau secepatnya setelah keadaan mengijinkan”. Bayi yang kecil dan dikandung kurang dari 9 bulan lebih mengalami masa fisiologis pasca kelahiran dibandingkan dengan berat badan normal, tetapi bayi yang sangat besar (overweight) juga dapat mempersulit kelahiran (Eisenberg, 1999). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekolah kesehatan masyarakat Harvard secara dramatis menunjukkan bagaimana status kesehatan bayi pada saat lahir berhubungan erat dengan diit ibu selama kehamilan. Pada ibu-ibu yang diitnya baik sampai istimewa, 95% dari bayi balita dengan kesehatan yang tergolong baik dan istimewa, diit ibu sendiri dapat mempengaruhi berat badan ibu yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi BBL, sehingga kurangnya berat badan ibu hamil memungkinkan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) (Eisenberg, 1996). Menurut National Center For Health Statistics 2003 “BBLR adalah berat neonatus yang pertamakali diukur setelah lahir kurang dari 2500 gr”.

Hubungan Antara Pengetahuan tentang Gizi, Pola Makan Dengan Insidensi Anemia/Status Gizi Ibu Hamil/Gizi Ibu Hamil/Anemia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Anemia gizi dapat disebabkan karena kekurangan zat gizi yang berperan dalam pembentukan hemoglobin yaitu besi, protein, Vitamin C, Piridoksin, Vitamin E. Keadaan kurang besi adalah penyebab anemia gizi yang paling sering ditemui. Salah satu penyebab terjadinya anemia defisiensi besi adalah asupan yang tidak mencukupi. Asupan zat gizi sehari-hari sangat tergantung pada pola makan yang dilakukan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pola makan remaja adalah pengetahuan gizi yang dimiliki. Remaja putri termasuk golongan rawan menderita anemia defisiensi besi karena terjadi peningkatan kebutuhan yaitu mereka sedang dalam masa pertumbuhanan dan setiap bulannya mengalami menstruasi yang menyebabkan kehilangan zat besi. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan belajar karena menurunnya daya konsentrasi dan daya pikir. Kekurangan zat besi juga dapat menyebabkan daya tahan tubuh terhadap penyakit menurun.

Berdasarkan data terdapat sekitar 30% penduduk dunia menderita anemia dan lebih dari setengahnya merupakan anemia defisiensi besi dan sebanyak 14% wanita yang sedang menstruasi juga mengalami anemia defisiensi besi (Dito, 2007). Volume darah yang hilang selama menstruasi berkisar antara 25-30 cc per bulan. Jumlah ini mencerminkan kehilangan zat besi sebanyak 12,5-15 mg per bulan atau 0,4-0,5 mg per hari selama 28 hari. Bila ditambah dengan kehilangan basal, kehilangan zat besi total wanita sekitar 1,25 mg per hari dan bila dihitung berdasarkan frekuensinya distribusi kehilangan darah menstruasi, dapat diketahui bahwa hanya 2,5% wanita yang membutuhkan zat besi lebih dari 2,4 mg per hari (DeMaeyer, 1993).

Hasil dari penelitian Arey (1939), yang menganalisis temuan dari 12 studi berbeda yang meneliti sekitar 20.000 catatan kalender dari 1500 wanita, menyimpulkan bahwa tidak terbukti adanya keteraturan siklus menstruasi yang sempurna (Cunningham et. al, 2006). Gunn et. al (1937), dalam suatu studi terhadap 479 wanita normal Inggris, mendapatkan bahwa perbedaan tipikal antara siklus terpendek dan terpanjang adalah 8 atau 9 hari. Pada 30% wanita, perbedaan tersebut dapat mencapai lebih dari 13 hari, tetapi tidak pernah kurang dari 2 hari pada wanita manapun (Cunningham et. al, 2006).

Jumlah darah yang keluar selama periode menstruasi normal telah dipelajari oleh beberapa kelompok peneliti yang menemukan bahwa jumlah berkisar antara 25 ml sampai 60 ml. Pada konsentrasi hemoglobin (Hb) normal yaitu 14 gr/dl dan konsentrasi besi Hb 3,4 mg/gr, volume darah ini mengandung besi sekitar 12 sampai 29 mg dan mencerminkan pengeluaran darah ekuivalen dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi setiap hari selama siklus, atau dari 150 sampai 400 mg per tahun. Karena jumlah besi yang diserap dari makanan biasanya cukup terbatas, maka pengeluaran besi yang tampaknya tidak berarti ini menjadi penting karena ikut menurunkan cadangan besi yang pada sebagian besar wanita sudah rendah (Cunningham et al, 2006). Batas kadar Hb remaja putri menurut World Health Organization (WHO 1997) untuk diagnosis anemia apabila kurang dari 12 gr/dl. Menurut Kodiyat (1995), prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil di Indonesia sekitar 63,5%, balita (55,5%), anak usia sekolah (20-40%), wanita dewasa (30-40%), pekerja berpenghasilan rendah (30-40%) dan pria dewasa (20-30%) (Inayati, 2006). Ada beberapa keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya anemia seperti kehilangan darah karena luka berat, tindakan pembedahan, menstruasi, kecelakaan, terlalu sering menjadi donor darah bahkan melahirkan. Beberapa faktor risiko yang dapat menimbulkan kondisi anemia adalah pola makan rendah kandungan besi dan vitamin, khususnya folat, gangguan intestinal yang akan mempengaruhi absorpsi zat-zat gizi ke dalam tubuh kondisi kehamilan dimana tubuh memerlukan asupan besi yang lebih tinggi, menstruasi, penyakit kronis, riwayat kesehatan keluarga dengan kasus anemia serta pecandu alkohol (Inayati, 2006).

Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, terkadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Masa sekolah biasanya lama menstruasi belum diketahui dan belum teratur (Wikipedia, 2007).

Anemia dapat terjadi pada setiap tahap kehidupan, secara statistik lebih sering didapatkan pada balita dan ibu hamil. Kebutuhan zat besi meningkat pada masa pertumbuhan atau usia balita karena pada masa itu pertumbuhan seorang anak sangat pesat (Vira, 2008). Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 1995 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia sebesar 57,1%. Penelitian Wirawan (1995) di Jakarta Timur pada siswa SLTA menunjukkan prevalensi anemia sebesar 44,4%. Sedangkan Tambunan (1995) mendapatkan dari 107 siswi SLTA di Jakarta, 24,3% mengalami anemia defisiensi besi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Permaesih dkk (1990) menunjukkan bahwa persentase penderita anemia pada kelompok wanita remaja santri sebanyak 44,4%. Remaja putri lebih rawan terkena anemia dibandingkan anak-anak dan usia dewasa karena remaja berada pada masa pertumbuhan yang membutuhkan zat gizi yang lebih tinggi termasuk besi. Remaja putri mengalami peningkatan kebutuhan besi karena percepatan pertumbuhan (growth spurt) dan menstruasi (Lynch, 2000). Selain itu, remaja putri biasanya sangat memperhatikan bentuk badan, sehingga banyak yang membatasi konsumsi makan dan melakukan pantangan terhadap banyak makanan (Sediaoetomo, 1992). Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian anemia sebagaimana yang ditunjukkan oleh Dreyfuss et al. (2000), adalah defisiensi vitamin A. Faktor lain, yaitu kekurangan konsumsi energi dan protein juga dapat menurunkan kadar hemoglobin dalam darah (Berger et al., 1997).

Di samping itu hasil penelitian pada wanita usia 15–49 tahun di Bangladesh menunjukkan bahwa ketersediaan besi dalam tubuh, tinggi badan, dan konsumsi tablet besi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kadar hemoglobin (Bhargava et al., 2001). Penelitian yang dilakukan oleh Antelman et al. (2000) di Tanzania menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan indeks massa tubuh (IMT), konsumsi sayuran dan kadar serum retinol dengan anemia pada wanita usia subur. Khumaidi (1989) mengemukakan faktor yang melatarbelakangi tingginya prevalensi anemia di negara berkembang adalah keadaan sosial ekonomi yang rendah yang meliputi pendidikan orangtua dan pendapatan keluarga yang rendah. Pendidikan orangtua menentukan kondisi ekonomi rumahtangga yang pada akhirnya mempengaruhi konsumsi keluarga (Sariningrum, 1990). Pendapatan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan (Berg, 1986). Pendapatan keluarga yang rendah berhubungan dengan tingkat konsumsi besi yang berasal dari daging, ikan, dan unggas serta makanan dari sumber hewani lainnya (Bhargava et al., 2001). Sedangkan pengetahuan seseorang akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap keadaan gizi individu yang bersangkutan termasuk status anemia (Saraswati, 1997). Anemia bisa disebabkan oleh kehilangan darah, diare dan malabsorbsi, frekuensi donor darah yang sering dan konsumsi makanan yang tidak adekuat (Hui, 1985).

Di samping itu keadaan tertentu seperti kebutuhan yang meningkat pada masa pertumbuhan, menderita penyakit kronis (seperti tuberkulosis) serta kehilangan darah karena infeksi parasit (malaria dan kecacingan) akan memperberat kejadian anemia (Arisman, 2004). Akibat dari anemia pada remaja antara lain dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena penyakit, menurunkan aktivitas remaja yang berkaitan dengan kemampuan kerja fisik dan prestasi belajar serta menurunkan kebugaran remaja, sehingga menghambat prestasi olahraga dan produktivitas. Di samping itu, anemia yang terjadi pada remaja putri merupakan risiko terjadinya gangguan fungsi fisik dan mental, serta dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada saat kehamilan. Menurut Yip (1998) status besi harus diperbaiki pada saat sebelum hamil yaitu sejak remaja sehingga keadaan anemia pada kehamilan akan dapat dikurangi. Upaya penanggulangan masalah anemia pada remaja berkaitan dengan faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya anemia. oleh karena itu diperlukan informasi masalah gizi pada remaja serta fakor-faktor yang mempengaruhinya. Informasi ini sangat berguna sebagai dasar penetapan strategi program perbaikan kesehatan dan gizi pada kelompok remaja. Penelitian dilakukan di Kabupaten Kudus karena tingginya prevalensi anemia gizi pada ibu hamil (62,9%) berdasarkan hasil pemetaan anemia gizi di Jawa Tengah pada Tahun 1999 (Soeharyo dkk, 1999). Namun sampai saat ini belum ada data mengenai prevalensi anemia pada remaja di Kabupaten Kudus.

Saturday, March 28, 2015

Hubungan Antara Pola Makan Ibu Hamil Dengan Tinggi Fundus Uteri dan Berat Badan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan menjadi bagian dari pembangunan nasional yang merupakan upaya bagi seluruh bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah dalam mewujudkan peningkatan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat setiap orang agar mencapai derajat kesehatan masyarakat. Pembangunan berwawasan kesehatan adalah sebagian strategi pembangunan nasional untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010 sehingga kebijakan dan strategi ini memiliki dampak negatif dan positif terhadap kesehatan masyarakat baik bagi individu, keluarga, maupun masyarakat terutama terhadap ibu hamil yang merupakan pencetus lahirnya generasi yang akan membangun bangsa dimasa depan. (Depkes RI 2000).

Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kebijaksanaan umum dari tujuan nasional. Agar tujuan pembangunan dibidang kesehatan tersebut dapat terwujud, diperlukan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal dan sebagai perwujudan upaya tersebut dibentuk sistem kesehatan nasional (Budioro, 2001).

Hubungan erat antara makanan dengan kesehatan manusia telah lama diakui oleh para ahli. Pada tahun 1970, para pembuat kebijakan pembangunan di dunia menyadari bahwa arti makanan lebih luas dari sekadar untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan saja. Kecukupan gizi dan pangan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia, hal mana merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Dalam hal ini gizi ternyata sangat berpengaruh terhadap kecerdasan dan produktivitas kerja manusia. Agar perencanaan upaya peningkatan status gizi penduduk dapat dilakukan dengan baik, semua aspek yang berpengaruh perlu dipelajari termasuk aspek pola makan, sosio-budaya, dan pengaruh konsumsi makanan terhadap status gizi. (Almatsier, 2001).

Asupan zat gizi sehari-hari sangat tergantung pada pola makan yang dilakukan. Jumlah dan mutu yang memadai harus selalu tersedia dan dapat diakses oleh semua orang pada setiap saat. Bahasan tersebut menggambarkan betapa eratnya kaitan antara gizi masyarakat dan pembangunan pertanian. Keterkaitan tersebut secara lebih jelas dirumuskan dalam pengertian ketahanan pangan (food security) yaitu tersedianya pangan dalam jumlah dan mutu yang memadai dan dapat dijangkau oleh semua orang untuk hidup sehat, aktif, dan produktif. (Almatsier, 2003).

Pada dasarnya Kehamilan merupakan keadaan fisiologis yang menyebabkan perubahan keseimbangan hormonal, terutama perubahan hormon esterogen dan progesterone.keinginan untuk hamil adalah salah satu insting manusia yang paling mendasar dan paling kuat, juga dimiliki oleh semua mahluk hidup dibumi. Kenaikan berat badan pada masa kehamilan berjalan dengan perlahan dan stabil. (Charlis, 2005).

Kehamilan merupakan masa kehidupan yang penting, masa ini dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Prawirohardjo, 2002).

Kecepatan naiknya berat badan hampir sama pentingnya dengan jumlah kenaikan yang harus didapat. Idealnya penambahan berat badan terjadi secara perlahan dan stabil disepanjang kehamilan. Selama trimester pertama berat badan naik 1,5 sampai 2 Kg dan saat memasuki trimester kedua kehamilan, ibu hamil harus mengalami kenaikan berat badan sekitar 500 gram per-minggu atau total kenaikan sebanyak 6 sampai 7 Kg. Memasuki bulan ketujuh dan delapan, berat badan harus terus naik sekitar 500 gram per-minggu. Trimester ketiga bulan terakhir kehamilan, berat badan ibu hamil hanya boleh naik sebanyak 500 gram atau 1 Kg atau tidak naik sama sekali sehingga jumlah kenaikan selama terimester ketiga adalah 4 sampai 5 Kg. (Francis-Cheung, 2008).

Menurut Abrams dan Salvin, 1995, “Kurangnya pertambahan berat badan pada trimester II berkorelasi kuat dengan penurunan berat lahir”. (Cunningham, dkk. 2005). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan berat badan ibu hamil sendiri adalah oedema, proses metabolisme, pola makan, merokok, muntah atau diare (Salmah, 2006). Untuk batas kenormalan kenaikan berat badan ibu hamil sendiri tergantung dari indeks masa tubuh (IMT) wanita sebelum hamil (Paath, 2004). IMT adalah berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi dalam meter (Hunter, 2005).

Berat badan yang didapatkan diakhir kehamilan adalah jumlah dari beberapa hal yang berbeda, kira-kira 7,5% kg, akan berhubungan langsung dengan bayi dan kebutuhannya untuk berat badan bayi, tali pusat, ketuban, otot tambahan untuk memperkuat dinding rahim, arah tambahan yang dibutuhkan bayi dan sel-sel baru untuk menyusui (Huter, 2005).

Selain peningkatan berat badan ibu hamil ada faktor lain yang dapat mempengaruhi berat badan bayi baru lahir antara lain genetik yang normal dan patologis, penyakit ibu, obstetrik dan lingkungan. Menurut National Center For Health Statistics, 2003 “Berat Badan Lahir adalah berat neonatus yang diukur segera setelah lahir atau secepatnya setelah keadaan mengijinkan”. Bayi yang kecil dan dikandung kurang dari 9 bulan lebih mengalami masa fisiologis pasca kelahiran dibandingkan dengan berat badan normal, tetapi bayi yang sangat besar (overweight) juga dapat mempersulit kelahiran (Eisenberg, 1999).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekolah kesehatan masyarakat Harvard secara dramatis menunjukkan bagaimana status kesehatan bayi pada saat lahir berhubungan erat dengan diit ibu selama kehamilan. Pada ibu-ibu yang diitnya baik sampai istimewa, 95% dari bayi balita dengan kesehatan yang tergolong baik dan istimewa, diit ibu sendiri dapat mempengaruhi berat badan ibu yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi BBL, sehingga kurangnya berat badan ibu hamil memungkinkan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) (Eisenberg, 1996). Menurut National Center For Health Statistics 2003 “BBLR adalah berat neonatus yang pertamakali diukur setelah lahir kurang dari 2500 gr”. Keadaan bayi baru lahir juga tergantung pada pertumbuhan janin dalam uterus, termasuk berat badan lahir, sehingga kondisi ibu hamil diperlukan perhatian yang khusus. Kelahiran dengan berat badan rendah bisa membuat bayi menghadapi resiko tinggi terhadap banyak masalah termasuk kesulitan pernafasan dan perkembangan sehingga mempertinggi angka kematian neonatal (Slonne, 1995).

Dalam upaya perbaikan angka kematian neonatal, dapat dicapai dengan menemukan dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi keselamatan janin dan neonatus, yaitu dengan kualitas pengawasan antenatal yang baik, sehingga keabnormalan kehamilan dapat segera terdeteksi dan teratasi. Pengawasan antenatal hendaknya minimal dilakukan 4 kali, 1 kali pada trimester I, 1 kali trimester II, dan 2 kali pada trimester III (Prawirohardjo, 2002).

Adapun hal-hal yang harus diawasi meliputi peningkatan berat badan ibu hamil, pemenuhan nutrisi, fungsi organ-organ tubuh, pertumbuhan dan perkembangan janin, jumlah dan letak janin serta letak plasenta, persiapan persalinan, keadaan jalan lahir, persiapan laktasi, imunisasi dan psikologi ibu (Jumiarni, 1994).

Derajat kesehatan perlu ditingkatkan terus, hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia adalah dengan meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia merupakan indeks komposit dari aspek pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Indikator Indeks Pembangunan Manusia di sektor kesehatan adalah umur harapan hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2007). Umur harapan hidup merupakan kontribusi dari Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKBA) dan Angka Kematian Ibu (AKI).

Angka Kematian Bayi Baru Lahir di Indonesia saat ini masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan milennium. Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (2002-2003), jadi Angka Kematian Bayi Baru Lahir (AKBBL) di Indonesia mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup atau dua kali lebih besar dari target World Health Organization (WHO) sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup.
Menurut Menteri Kesehatan (2007), berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (2001), penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia diantaranya BBLR 29%, asfiksia 27%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologik 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%.

Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut WHO (2007)diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 33%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain yaitu berkisar antara 9% - 30%.
Menurut Mitayami (2011) faktor penyebab BBLR adalah komplikasi obstetri, komplikasi medis, faktor ibu dan faktor janin. Faktor ibu diantaranya adalah dikarenakan penyakit, usia ibu, keadaan sosial ekonomi dan kondisi ibu saat hamil.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2003) Angka Kematian Bayi (AKB) di Propinsi Jawa Barat masih tinggi bila dibandingkan dengan angka nasional yaitu 321,15 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian bayi adalah komplikasi pada bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), asfiksia dan infeksi. Penyebab tidak langsung AKB adalah faktor lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan kesehatan sendiri (Retnasih, 2005).

Dari fenomena, besarnya masalah, kronologis masalah, dan dampak dari masalah, sehingga diduga ada hubungan anatara pola makan dengan tinggi fundus uteri dan kenaikan berat badan ibu hamil, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hal tersebut.

Kumpulan Judul KTI Kebidanan

Judul-Judul Karya Tulis Ilmiah (KTI) Kebidanan
Judul- Judul Karya Tulis Ilmiah Kebidanan
    1. Hubungan Antara Pola Makan Ibu Hamil Dengan Tinggi Fundus Uteri Dan Berat Badan
     
    2. Pengaruh Pemberian Tablet Zat Besi Terhadap Kasus Anemi
     
    3. Hubungan Antara Pola Makan Ibu Terhadap Tinggi Fundus Uteri dan Kenaikan Berat Badan
     
    4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Anemia
     
    5. Hubungan Kadar Hb Dengan Produksi ASI Pada Ibu Post Partum
     
    6. Determinan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah
     
    7. Hubungan Peran Pendamping terhadap Kelancaran Persalinan Kala I dan II
     
    8. Pengetahuan dan Sikap Akseptor KB tentang Kontrasepsi Pil
     
    9. Hubungan Antara Kadar Gula Darah dan Obesitas Terhadap Pola Menstruasi
     
    10. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kunjungan Posyandu.